Tuesday, May 11, 2010
Finally I went to XXI [I'm back]
Akhirnya pula saya menikmati kawasan pusat jajanan "sabang" yang beberapa bulan lalu di'tertibkan' namun kini kembali tidak tertib (kembali berdagang di tempat semula). Beberapa bulan lalu memang ada penertiban buat para pedagang yang berjualan di sepanjang jalan KH. Agus Salim d.h dikenal Jalan Sabang. Tapi bukan Indonesia dan bukan Jakarta namanya kalau setelah para pedagang diusir maka dalam beberapa waktu kemudian para pedagang pasti dapat kembali menguasai wilayah jajahannya sambil berteriak MERDEKA !!!! Permasalahan negeri ini memang lebih ruwet dari benang kusut yang nyangkut di lilitan tali trus nyemplung got trus ujung yang satu digigit tikus dan satunya lagi dimaen-maenin sama kucing yang terkagum-kagum kok ada tikus segede badan gw ya … (badan kucing maksudnya) Saking ruwetnya sampe kasih solusi buat masalah di Jalan Sabang saja nggak bisa. Padahal Gubenurnya katanya ahli tata kota lulusan Jerman.
Dan sudahlah, nggak ada yang penting membicarakan jalan sabang, selama saya masih gampang cari makan malam di seputaran kebon sirih, maka saya gak akan nulis macem-macem. Lagian kalo mau nulis macem-macem juga saya kok ndak yakin ada pihak yang terkait yang suka bloging atau blog walking nyasar ke blog saya ini. Sudah lah, tak perlu menggarami air laut, tak perlu menggulai gulali dan mengasami cuka.
Jadi ceritanya kemaren diajakin nonton premiernya Iron Man 2 (saya lebih suka mengartikan Iron=Setrika, jadi Iron Man 2 = 2 Manusia Setrika 2) tapi pesertanya nggak banyak, padahal kemarin itu premier. Jadi ditawar jadi malem ini (malem minggu) dan jadilah saya memegang tiket bernomor D8 Studio I Djakarta Theater XXI. Dan ternyata sekarang sandaran tangan yang suka kita angkat supaya tempat duduk jadi lebih lebar dan kita bisa nempel langsung dengan yang duduk di sebelah kita, ternya sekarang udah nggak bisa lagi diangkat. Saya rasa Humas Djakarta Theater perlu mengklarifiaksi hal ini.
Cerita filemnya bagus, animasi sistem komputer dan mainframenya luar biasa tapi yang bisa diamati ternyata filem ini nggak bisa menyembunyikan misi yang ada dibaliknya. Silakan tebak sendiri kalo sudah ada manusia bermata satu (mata yang satunya ditutup) dan pusat energi yang berbentuk segitiga (sebelumnya bulat) itu melambangkan apa.
Sudah ah, saya sudah lama ndak mereview filem, jadi anggap paragraf diatas obat kangen saya ngomentari filem-filem yang sudah saya liat.
Oia, selama 262 hari nggak ke Bioskop bukan tanpa alasan. Terakhir kali saya nonton itu menjelang bulan Ramadhan, nonton Pelham 123 yang cerita pembajakan kereta bawah tanah. Itupun nggak sengaja soalnya lagi suntuk ngerjain KKP yang udah tinggal bentar lagi mau sidang. Trus masuklah bulan Ramadhan. Sebejat-bejatnya saya yang masih suka tilawah di Lt. 13 Gedung Sarinah pas orang-orang pada holat tarawih, saya masih berhasil menaklukkan hasrat nonton saya di bulan Ramadhan. Walaupun hasrat tilawahnya nggak bisa dikalahkan :(
Trus abis itu lebaran, abis lebaran begitu mau masuk sistem saya untuk mencairkan dana beli tiket bioskop muncul alert "No Time Allocation for Entertainment until your Final Project finish" dan benar saja, sistem ini terlalu kuat buat di hack dan akhirnya sampai Tugas Akhir saya selesai alert itu baru hilang. Btw, makasih buat alert tadi yang cukup efektif membuat say amenyelesaikan TA hanya dalam waktu 2 bulan. What amazing kan … apalagi TA anak SI kan harus bikin project.
Selesai TA tapi belum sidang harus mewujudkan mimpi terindah dalam misi 2009. Dan selama 40 hari lebih saya sudah berhasil melupakan bioskop padahal dalam selang waktu itu ada filem 2012 sama Sang Pemimpi. Dan hingga sekarang saya masih belum nonton yang namanya Sang Pemimpi (yang punya DVD atau file bajakannya mau dunk … )
Pulang dari tanah suci, sidang TA setelah itu masih sibuk sana sini mengurus kelulusan. Sampai akhirnya dapat tiket wisuda coba utak atik sistem buat mencairkan dana beli tiket dan betapa kagetnya saya ketika muncul alert "No budget allocated for Movie" tapi saya ndak hilang akal, saya coba utak atik mata anggaran, coba masukkan angka-angka yang fantastis tanda saya bisa melakukan efisiensi tapi sistem masih kasi alert lagi "Budget Over Limit" dan akhirnya saya menyerah. Sampai kemaren ada filem Clash of Titan saya cek di sistem masih ada alert "No Budget for Movie and Your Budget is Over Limit" kali ini alertnya muncul sekaligus. Udah tau kayaknya kalo saya bakal utak-atik sistem biar nggak muncul alert.
Buat yang bingung dengan kata-kata "Budget Over Limit" atau "No Budget Allocation" dan lain lain, silakan anda tetap dalam kepusingan. Itu hanya ungkapan halus saya buat bilang kalo lagi mengencangkan ikat pinggang demi sebuah Blackberry … he he he …
Implikasi dari tidak nonton di bioskop adalah free space harddisk lappy saya kini semakin menipis keisi dengan filem-filem bajakan yang siap saya tonton kapan saja, siap saya putar sebanyak apapun saya mau, siap di pause dan di play lagi kalo ada kata-kata yang ndak ngerti dan mau buka kamus dulu buat cari artinya. Dan kalo dipikir-pikir tindakan ini sangat bermanfaat. Terima kasih buat ndut yang telah menjadi penyuplai utama filem di pabrik panci, tindakanmu sangat heroik Bro, dengan melakukan pembajakan terhadap filem holywood berarti telah mengurangi pendapatan industri perfileman dunia pada khususnya dan amerika pada umumnya. Kita sudah tau banyak berapa dollar hasil sebuah filem yang hasilnya Cuma buat foya-foya sama perang. Lanjutkan perjuangannmu Bro … MERDEKA !!!
Communicate with Children
"Belom"
"Makan dunk, udah siang, udah jam berapa coba ini … kok belum makan .."
"Om rumahnya dimana ?"
"Itu rumah yang tingkat"
"Yang disitu itu ya ?"
"Iya …"
"Deket dunk …"
"Iya, kita kan tetanggaan"
Percakapan tadi terjadi kira-kira jam setengah dua siang tadi tepat di samping saya, antara laki-laki usia kira-kira 2-3 tahun lebih tua dari saya dan anak perempuan usia kira-kira 5 tahunan.
Hikmah kejadian tadi langsung menjurus kepada sikap saya selama ini kalau harus menangani anak-anak. Benar kalau ada ungkapan bahwa segala yang kita lihat merupakan sebuah pelajaran yang harus kita petik manfaat dari kejadian tadi.
Hingga usia saya sekarang ini, saya masih menemui kendala jika harus berhadapan dengan anak-anak berapapun usianya. Saya sering speachless kalau harus bermain-main atau bahkan bertemu dengan mereka. Kemarin waktu main ke Planetarium, kebetulan bareng sama temen kantor yang membawa putranya usia kira-kira 5 tahunan. Dan penyakit lama saya pun kambuh. Saya nggak tau harus membicarakan apa dengan si jagoan kecil tadi.
Atau ketika di rumah tiba-tiba disuruh 'maen' atau setidaknya ada banyak ponakan yang maen ke rumah. Kontan saya lebih nyaman untuk ngobrol dengan kakek nenek anak-anak tadi daripada harus ngajakin anak-anak tadi ngobrol.
Saya sadar sepenuhnya sikap saya tersebut bukan merupakan sikap yang baik. Menjalin sebuah komunikasi bukan hanya kepada orang dewasa, kemampuan menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak mutlak diperlukan. Terutama jika telah memiliki amanah anak. Bagaimana dapat mendidik anak kalao menjalin sebuah komunikasi yang baik dengan anak kecil saja belum bisa ?
Ada saran untuk masalah saya ini ??
Negeri 5 Menara
- Infotainment adalah program ilegal yang dilarang ditayangkan dengan alasan apapun dan tujuan apapun
- Sinetron adalah tayangan yang hanya boleh tayang diatas jam 10 malam dengan pajak penyiaran sebesar 1000 dinar setiap 1 jamnya
- Setiap hari harus ada meteri pendidikan yang ditayangkan. Jadwal dan materi pendidikan harus disesuaikan dan silakan dikoordinasikan antar stasiun TV
- Semua tayangan termauk iklan harus mendapat persetujuan dari lembaga penyiaran dan semua tayangan harus sesuai dengan misi pendidikan
- Kalo nggak bisa memproduksi tayangan bermutu lebih baik merelay discovery channel atau national geographic channel
- Membeli hak siar untuk channel channel pendidikan supaya dapat diakses secara luas dan gratis
Menyesal saya baca buku Negeri 5 Menara (n5m) trus kemarin ada kajian di kantor dengan bintang tamu A.Fuadi juga saya hadiri penuh dengan rasa penyesalan. Gimana nggak nyesel coba, kenapa baru sekarang buku n5m muncul, kenapa baru sekarang disaat saya sudah menamatkan S1 baru ketemu sama yang namanya A.Fuadi. Kenapa ndak dari dulu dulu …
Coba kalo dari dulu-dulu saya sudah baca n5m, pasti postingan di blog ini isinya sudah bahasa inggris semua. Atau kalo ndak berbahasa arab dan diposting bukan dari Indonesia tapi dari Al Azhar.
Tapi percuma meratapi penyesalan saya, seorang muslim pantang ada kata menyesal kecuali untuk sebuah dosa. Masuk STM bukan sebuah dosa terlebih gara-gara masuk STM sekarang dah bisa cari duit sendiri itu adalah anugrah luar biasa yang harusnya disyukuri, bukan disesali.
Balik ke kisah yang ada di n5m, ingatan saya jadi menerawang ke masa-masa jaman saya TK dulu. Pulang sekolah, biasanya jam 9an trus sama bapak supaya saya ndak maen keluyuran, saya diajari caranya nyalain TV dan disuruh nonton TV. Waktu itu TV kalo pagi channelnya TPI dan acaranya sangat bernuansa pendidikan. Lha wong namanya ajah Televisi Pendidikan Indonesia. Saya inget persis gimana waktu itu saya nonton tayangan yang isinya pelajaran biologi dan fisika. Saya seeh waktu itu ndak ngerti apa maksudnya. Yang jelas ada itung-itungan sama ada adegan kuli panggul lagi ngangkat karung-karung beras.
Hubungannya tayangan tadi sama n5m apa ? n5m adalah cerita yang sarat dengan unsur pendidikan, saya jadi mikir masih ada nggak ya tayangan yang sarat dengan unsur pendidikan di jaman sekarang ?
Harusnya televisi bisa jadi media yang ampuh untuk penyebaran pendidikan dan ilmu pengetahuan. Alasannya apalagi kalo bukan rakyat negeri ini lebih mampu beli TV daripada beli buku. Kalo di sensus, saya yakin akan lebih banyak rakyat Indonesia yang punya TV daripada yang punya buku.
Kisah-kisah yang ada di n5m harus segera di publikasikan lewat TV. Kemaren saya denger seeh n5m memang mau di filemkan, tapi kok saya pesimis melalui filem pesan-pesan di n5m dapat nyampe ke sebagian besar rakyat Indonesia. Sebab, berapa banyak seeh orang yang pergi ke bioskop ? Kalo mau difilemkan, pemerintah harusnya yang jadi produser trus pemerintahkan setiap stasiun TV menayangkan filem tadi. Masak beli jam siar 2-3 jam buat mencerdaskan bangsa nggak sanggup ? Sementara pasang iklan buat kampanye trilyunan bisa …
Sedih saya liat TV yang isinya jauh lebih buruk dari isi tempat sampah dan septi tank atau got di kebpn sirih. Sedih kalo anak-anak Indonesia nggak lagi punya tayangan yang inspirasional buat masa depan mereka. Sedih kalo ternyata anak Indonesia lebih sering diboongin lewat kontes nyanyi, sinetron, gontok-gontokannya kalangan elit, sama berita kriminal. Mau jadi apa nanti mereka ? Penyanyi yang suka mejeng di Mall yang kesurupan kalo ndak tampil di infotainment dan bisa ketawa ketawa waktu ketangkep lagi pesta narkoba ?
Kalo saya jadi menteri penyiaran atau pendidikan atau apa ajah yang punya akses untuk mengatur materi penyiaran pertelevisian negeri ini maka yang saya lakukan adalah :
Kalo ada presiden yang menyanggupi 6 syarat tadi, saya bersedia memilih anda.
Thursday, March 25, 2010
UN tak selebay alay
Pemerintah berdalih bahwa UN menjadi patokan penentuan standart kwalitas pendidikan Indonesia. Point ini saya setuju, lha wong barang saja ada sertifikasi (contoh : SNI), proses kerja juga ada ISO-nya, makanan ada sertifikasi halal dari MUI, jadi sudah semestinya kwalitas SDM juga ada standarisasinya.
Yang dipermasalahkan oleh para pelajar adalah jangan menjadikan UN sebagai satu-satunya dasar penentu kelulusan. Halloooo … kemana ajah semua ? Pada sibuk update status eFBe seeh … UN bukan satu-satunya penentu kalee, setahu gw, mski lulus UN tapi kalo sekolah nggak sudi meluluskan, itu tetep bisa nggak lulus lho …
Sekarang gini, kita semua sekolah di Indonesia, dengan pembiayaan sekolah dari pemerintah Indonesia. Ini gw bicara yang sekolah di sekolah Negeri. Walaupun ada biaya bulanan yang setiap bulan orang tua kita setor ke sekolah, sekali lagi ORANG TUA kita setor tiap bulan ke sekolah, tapi jangan lupa yang nge-gaji guru-guru, yang ng-bangun gedung itu kan pake biasaya pemerintah. Jadi wajar dunk, kalo pemerintah menuntut pertanggungjawaban atas dana yang telah kita nikmati di bangku sekolah. Gw yang sekarang sebagai pembayar pajak kok rasanya juga nggak rela kalo duit yang udah dipake selama masa pendidikan nggak ada pertanggungjawabannya dari si pelajar sebagai penikmat pendidikan yang walauupun dengan kwalitas standar Indonesia.
Sebenernya apa yha yang jadi masalah ketika adanya UN ? Perasaan selama 3 kali gw ikut ujian nasional semasa SD, SMP, dan SMK soalnya gitu-gitu ajah. Gitu-gitu ajah artinya soalnya nggak ribet-ribet amat. Pemerintah juga bukan orang yang bego'-bego' amat. Nggak bakalan sampe ketuker soal UN SMP diujikan ke anak-anak SD. Standart soal juga wajar, artinya semuanya sudah sesuai dengan kurikulum yang ada dan sudah diajarkan. Kalau-pun toh nggak lulus, sekarang ada ujian susulan. Kalaupun gagal ujian karena masalah teknis, misal kertas ujian kotor, jawaban tidak terbaca mesin scan karena salah pake pensil, sepengetahuan gw itu hal yang bisa ditoleransi. Jadi intinya selama si peserta UN tadi bener-bener belajarnya jadi seharusnya nggak akan ada masalah.
Pelajar demo menuntut penghapusan UN kok menurut hemat saya lebay amat seeh … Halloooo semua, UN bukan segalanya lagi. Justru banyak hal selain UN yang perlu dikhawatirkan. Harusnya tu ada demo yang menentang tayangan televisi sekarang yang jauh dari unsur pendidikan. Meminta pemeritah untuk bisa menjadikan Discovery Channel atau National Geographic Channel sebagai tayangan gratis di sekolah-sekolah. Meminta kementrian pendidikan dan Kementrian Komunikasi dan Informatika bekerja sama membuat e-learning gratis. Ini yang patutnya jadi perhatian. Kok malah UN yang dijadikan masalah … sementara ada masalah lain yang jelas-jelas masalah malah dibiarkan. Tapi gw paham, sesuai salah satu lirik lagu nasional : ITULAH INDONESIA
By The Way, buat yang mati-matian menentang UN, saya ucapkan selamat menempuh UN, terimalah dengan hati terbuka bahwa UN baik untuk anda semua. Bekerjalah dengan jujur sebab sesuatu yang baik, jika dipersiapkan dan dikerjakan dengan baik pasti akan membawa hasil yang baik.
Friday, March 12, 2010
Selamat Jalan ...
"iya dunk pih ..."
Kalimat pertama diatas merupakan kalimat terakhir yang beliau ucapkan pada saya beberapa bulan lalu, beberapa minggu setelah kepulangan saya dari tanah suci. Waktu itu beliau sedang keluar dari mobil untuk bertukar posisi dengan sang istri.
Sejak frekwensi cuci darahnya meningkat menjadi 3 kali seminggu, beliau jika bersama orang lain tidak diperkenankan untuk menyetir selama orang lain tadi bisa nyetir tentunya ... ye iyalah ... Jadi setiap berangkat dan pulang kantor beliau selalu istri beliau yang mengemudikan mobil. At list, beliau hanya nyetir dari pojok monas ke pojok monas yang lain (kantor istri beliau ke kantor beliau)
Tiga minggu yang lalu terkejut saya waktu mendengar beliau terkena serangan stroke dan mengalami pendarahan otak dan harus segera operasi otak. Lebih mengejutkan lagi bahwa hal itu harus terjadi saat dokter sudah membolehkan cuci darah seminggu 2 kali. Sejak saat itu beliau harus berjuang melawan penyakit barunya itu.
Idealnya paling cepat 3 hari pasca operasi maka pasien bisa disadarkan (obat bius dan penenang di stop), namun beliau masih terlalu lelah, sehingga baru beberapa hari setelah operasi beliau tersadar. Tidak ada masalah pasca operasi, banyak kemajuan yang ditunjukkan hingga dokterpun berani memutuskan jika selama 3 hari kondisi beliau stabil, maka hari kamis kemarin beliau dapat dipindahkan ke ruang perawatan.
Mendengar keputusan dokter tadi merupakan kebahagiaan bagi istri beliau sehingga setelah 3 minggu absen di kantor berani memutuskan menitipkan sang suami kepada suster selama ditinggal masuk kantor. Belum genap dua hari masuk kantor, Selasa siang, pihak rumah sakit mengabarkan terjadi pendarahan kembali dan harus segera diambil tindakan. Tak pelak, air mata yang sempat terhapus kembali menetes, bahkan hingga pasca operasi kedua.
Sedih rasanya melihat sosok yang sering menyapa dengan sapaan ceria tiap kali beliau mengantarkan istrinya ke kantor kini terbaring lemah dengan berbagai alat mengitarinya. Sedih rasanya melihat sosok yang tak kenal menyerah kini harus terbaring dengan berbagai selang ditubuhnya.
Alloh pemilik alam raya ini, tak ada yang bisa menghalangi apapun keputusanNYA. Operasi kedua tidak membuahkan hasil hingga dokterpun akhirnya menyerah. Hingga akhirnya beliau lebih memilih kembali kepada Zat yang begitu beliau rindukan. Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'un ...
Tepat hari kamis pukul 09.00 semua alat bantu tidak lagi dapat mempertahankan denyut jantungnya, tepat di hari dimana seharusnya beliau pindah ke kamar perawatan, beliau mendahului kita menemui Sang Khaliq.
Selamat jalan papih, amal ibadahmu telah merindukan tuannya di sana ... nanti mami kalo dikantor biar wahyu yang ngejagain ...
Mami, yang ikhlas ya ...
*dedicated to Cahyono Suswayanto, RIP Wednesday, March 11 2010
**papih dan mami adalah panggilan saya untuk beliau berdua, panggilan yang terbentuk bukan atas hubungan darah, tapi persaudaraan sebagai sesama muslim yang begitu merindukan ridho Tuhannya.
Saturday, February 27, 2010
Merantau

Awal long weekend, oh ... senangnya, sebab saat-saat ini adalah saat yang paling saya syukuri kedatangannya. Bukan karena hanya akan ada waktu di rumah selama 3 hari, tapi lebih dari itu, saat-saat bisa menikmati waktu tanpa rutinitas pekerjaan kantor di akhir pekan adalah satu hal yang tak ternilai harganya.
Dari beberapa hari yang lalu sudah menyiapkan list kegiatan, mulai dari web development, blogging, baca buku, dan nonton film tentunya. Sayang kegiatan saya kok rasanya masih jauh dari yang namanya manfaat :( Dan alhasil hingga jam segini saya berhasil menuntaskan 3 judul film sejak sore tadi.
Salah satu film 'korban' kemalasan saya hari ini adalah 'Merantau'. Film karya negeri sendiri yang mengangkat pencak silat ini cukup menarik untuk saya ceritakan disini. Bukan, bukan saya akan bercerita tentang film tadi, atau memberikan review jalan cerita dan penggarapannya. Nggak penting bagi saya beberapa adegan 'ganjil' yang ada atau darah yang mengucur terlalu deras saat salah satu tokohnya terluka, namanya juga film Indonesia, jadi wajar kalo ada hal yang aneh dalam penggarapannya ... he he he ...
Yuda adalah pemuda minangkabau. Dalam tradisi minang, seorang anak laki-laki yang telah dewasa, belum dapat dikatakan laki-laki sejati sebelum membuktikan dirinya dapat berhasil menjalani hidup di negeri orang atau dalam bahasa yang kita kenal 'Merantau'. Dikisahkan si Yuda ini berangkat juga ke Jakarta memenuhi harapan tetangga-tetangganya, walaupun sebenarnya ibunya tidak mengharapkan kepergian si Yuda. Singkat kata sampailah Yuda di Jakarta. Namun bukan pekerjaan dan keberhasilan yang didapatkan, justru si Yuda harus meregang nyawa saat menuntaskan kewajibannya menolong seorang wanita bernama Astri.
Hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika Yuda berpamitan kepada Ibunya. Ibunya hanya berpesan 'Jaga diri baik-baik ya nak ...' hal ini mengingatkan saya pada beberapa pesan Ibu saya setiap kali saya menghubungi beliau. Kalau dulu jaman sekolah Ibu berpesan "Ati-ati, sinau sing sregep. Ojo pacaran dhisik" (=hati-hati, belajar yang rajin, jangan pacaran dulu). Namun seiring berjalannya waktu, pesan Ibu sekarang berganti "Ati-ati, terutama karo arek wedok, arek wedok saiki leter-leter, njaluk perlindungan terus marang Gusti Alloh" (=hati-hati, terutama sama anak perempuan, perempuan sekarang genit-genit, minta perlindungan terus kepada Alloh). Inti pesan yang saya tangkap disini adalah 'jangan sampai terperangkap dan terpedaya tipu daya wanita' ... Oh ibuku ini pengertian sekali kalo anaknya ganteng ... he he he ...
Merantau mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Tak terasa, sudah hampir 7 tahun saya tinggal di perantauan. Saya jadi teringat kejadian pada Juni 2003, waktu itu usia saya belum genap 16 tahun. Kota Malang, adalah kota perantauan saya untuk pertama kalinya. Lepas 3 tahun di Malang, akhirnya saya harus mengakui bahwa pemikiran saya tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang-orang kampung yang setiap lebaran terjaring operasi yustisi di Jakarta. Ya, pemikiran saya nggak ada bedanya dengan tukang bangunan asal Purworejo, mbak-mbak warung Tegal, tukang sate madura di samping kantor. Pemikiran saya sama dengan mereka yang menjadikan Jakarta adalah tempat mewujudkan impian dan cita-cita. Harapan yang menjadikan Jakarta sebagai doraemon yang mampu memberikan apa saja yang diinginkan.
Sudahlah, nggak ada gunanya mempermasalahkan pemikiran ini, terserah pada pemikiran masing-masing kepala. Satu yang pasti hanya Jakarta masih tempat yang sangat menjanjikan buat mewujudkan impian.
Selain kalo setiap lebaran sering mudik dan di kampung sering disebut orang Jakarta, bagi saya sungguh nggak ada istimewanya kota ini dibanding dengan kota-kota lain. Satu-satunya hal yang membuat saya bertahan di kota ini adalah ketidakberanian saya untuk keluar dari zona aman, zona dimana saya tetap menerima gaji bulanan setiap tanggal 25, pekerjaan tetap (setidaknya sampai 1 tahun kedepan).
Melihat angka 7 sebagai simbol lamanya waktu saya meninggalkan rumah untuk merantau saya kok jadi ill fill. Saya malu sudah 7 tahun dan usia juga sudah 23 lha kok belum bisa jadi apa-apa. Rasul Muhammad SAW usia 25 tahun mampu meminang wanita mandiri kalangan atas bangsawan arab. Mustahil tidak berbekal apa-apa. Mustahil jika hanya berbekal Al Amin seorang Siti Khadijah mau menerima pinangan pemuda 25 tahun. Rasul Muhammad SAW pasti memiliki value yang luar biasa, kredibilitas yang tak terbantahkan. Nah, pertanyaannya saat usia saya 25 tahun, kira-kira sudah bisa apa ya ?
Monday, February 8, 2010
Saya Kembali
Alhasil, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, akhirnya tepat tanggal 10 November (hari pahlawan) semua persyaratan Tugas Akhir selesai, jumlah minimal bimbingan terpenuhi dan siap untuk maju sidang, Januari 2010.
Akhirnya saya menunaikan misi 2009 dengan sukses dan luar biasa sejak tanggal 17 November 2009 s.d 27 Desember 2009, namun saya baru menghirup udara jakarta pada 4 Januari 2010 dengan cek list persiapan sidang TA yang telah dijadwalkan tanggal 12 Januari 2010. Laporan memang sudah selesai, tapi perlu sentuhan akhir untuk benar-benar dapat disidangkan. sepertinya saya akan membuat tulisan khusus mengenai pengalaman saya selama mengerjakan dan mempertanggungjawabkan TA ini ... *sok penting.com
Dan akhirnya pada tanggal 12 Januari 2010, saya resmi menyudahi pendidikan S1 saya dan tepat pada tanggal 5 Februari 2010 kemaren, semua persyaratan pendaftaran wisuda saya serahkan dan tinggal menunggu hasil yudisium fakultas hari ini.
dan kini, saya telah kembali ....