Saturday, July 26, 2008

THE DARK KNIGHT

Seperti biasa, dari sini :

Dengan pertolongan Letnan Jim Gordon (Gary Oldman) dan Jaksa Harvey Dent (Aaron Eckhart), Batman merancang startegi untuk menghancurkan kejahatan berencana di Gotham untuk selamanya

Kerjasama tiga serangkai tersebut terbukti efektif, namun mereka mengetahui bahwa mereka adalah sasaran seorang dalang kejahatan yang dikenal sebagai Joker (Heath Ledger), yang mendorong Gotham ke dalam anarki dan memaksa Ksatria Gelap (The Dark Knight) berada di batas antara sebagai seorang pahlawan dan seorang penjaga keamanan

The next movie, wish will be post from different IP and better situation

2 comments:

iRene said...

ahhh gw lum nonton nyebelin
*tutupmatagamaubacasinopsisnya*

Anonymous said...

Model Pahlawan di Indonesia??? :

Sesudah nyantri 25 tahun dan diajari ngaji dan ngaji melulu, sang Kyai berkata
kepadanya, " Sudahlah, sekarang kamu pulang ke desamu dan bikin pesantren "

Lelaki ndeso itu kaget ..." Lho ! bikin pesantren gimana ? Saya ndak bisa apa-apa",
katanya.

Bikin pesantren itu kan perlu ilmu agama yang mumpuni, perlu modal, methoda dan
kualitas iman yang prima.
"Pokoknya pulang dah, bikin pesantren ", perintah sang kiayi.
Ia pulang, dan tak bikin apa-apa. Bengong saja, di rumahnya yang buruk berlantai
tanah, kerja di sawah dan di kebun.

Setahun kemudian ia memperoleh warisan hampir 10 juta rupiah. Habis dalam waktu
beberapa hari saja. Padahal di rumahnya tak ada perubahan apa-apa. Orang sedesa
bingung, untuk apa saja itu duwit ?

Ternyata ada seorang yang sedang pailit besar, dan si 'ndeso' itu memberikan seluruh
jutaan uangnya untuk menolong Pak Pailit. Ia sendiri tetap melarat.
Pak Pailit inilah yang pertama-tama melihat lelaki itu sebagai seorang yang punya
watak dan mutu Kiyai, ia berkata kepada setiap anak muda, " Bergurulah kesana ".

Mereka pun berdatangan kesana untuk nyantri. " Nyantri gimana ? Saya bukan Kiai.

Saya tak bisa apa-apa ", jawab sang Ndeso. Tapi anak-anak muda itu 'ngeyel' mau
ikut dia. "Baiklah", ia berkata akhirnya.
" Ikutlah saya kerja di sawah, mengerjakan kebun, memperbaiki jembatan, bikin
usaha, tingkatkan ketrampilan, sambil sholat bareng-bareng."

Dalam waktu tak lebih dari tiga tahun dusun itu berkembang makmur.
Nge 'baldah thayyibah', nge'qoryah thayyibah'. Para santri tak pernah masuk kelas.
Kelas mereka adalah sawah, kebun, desa, dan disitulah sang Kiai Jembatan kasih
'pelajaran', sambil rumahnya tetep berlantai tanah.
(Emha Ainun Nadjib/Secangkir kopi Jon Pakir/Mizan/PmBNetDok)