Sunday, April 15, 2007

nice saturday ...

Review pengalaman jalan-jalan semalam di sekitar Thamrin Jakarta ...

Setelah berunding beberapa lama dan mbulet kesana kemari maka diambil keputusan bahwa acara malam minggu ini adalah makan terus nonton ... \:D/ Padahal ada banyak plan yang sempat terpikir mulai dari jalan-jalan ke Ragunan, jalan-jalan ke Monas, Makan di Atrium, Cari baju di Pasar Baru, Ajep-ajep di ex di Plasa Indonesia, sampe pada makan di lalapan cianjur di jalan jaksa ... dan kesemuanya gak ada yang terlaksana ... cape de ... dan akhirnya diputuskanlah makan di Es Teler 77 terus nonton Nagabonar jadi 2 di DT [baca : Djakarta Theater ... bukan Darut Tauhid lho ya ...]

Janjian selepas magrib terpaksa molor sampai jam 20.30 karena guyuran hujan sehingga tempat makan yang semula adi Es Teler 77 terpaksa beralih ke Baso Malang Karapitan dah segera saja kita mulai wisata kuliner kita hari ini ...

Pemirsa ...
Secara namanya warung baso, maka menu baso lah yang saya pilih. Tampilannya biasa saja dalam mangkuk tenggelam beberapa butir baso sapi, baso urat, pangsit goreng, mie kuning, tahu goreng isi baso, baso goreng, dan ada selembar 'tepung goreng' dan taburan daun bawang yang hanya mengapung diatasnya [tidak ikut tenggelam bersama kuah baso]

Kita cicipi kuahnya terlebih dahulu pemirsa, maka sesendok kuah baso pun membasahi lidah dan berakhir di tenggorokan saya ... rasanya gurih banget, kaldu dan rasa rempah-rempah bumbu baso-nya terasa pas dan sedap ... cukup mak nyuss lah ... gak terlalu nendang tapi juga gak terlalu flat ... PAS ...

Beralih ke beberapa butir baso yang ada. Cukup empuk, terbukti saya tidak perlu mengerahkan tenaga terlalu besar untuk sekedar memotong dengan sendok makan. Sepotong baso akhirnya saya nikmati, rasanya ... nendang banget garamnya bumbunya kalah ... tapi dagingnya cukup kuat dan tidak terlalu terasa tepung dan pengenyalnya. Dari segi tekstur cukup lembut dan pas, tapi dari segi rasa 60 saja lah nilainya ... hal ini berlaku untuk baso uratnya juga ...

Untuk pangsit goreng, baso goreng, dan 'tepung goreng' rasanya standart, keras malah, perlu direndam beberapa lama untuk kemudian bisa dipotong dengan sendok. Rasanya tidak berbeda jauh dengan makanan sejenis yang pernah ada. Cukup saya beri penilaian 70 saja lah untuk pelengkap baso ini.

Sedangkan untuk mie kuning yang dibentuk seperti gulungan tali jemuran ini rasanya biasa saja, tapi aroma khas dari mie sudah hilang, jadi ya berasa mie biasa. Gak terlalu spesial lah untuk gulungan mie ini.

Kalo secara keeseluruhan agak mengecewakan apalagi saat seluruh isi baso sudah bercampur dlam kuah, maka yang nendang adalah garamnya, bumbunya sudah tidak kuat lagi menaklukkan lidah saya. Nilainya cukup 65 saja lah ...

Untuk minumannya, sebenarnya saya memesan strawberry juice, tapi katanya dah habis, tinggallah blackcurrent yang menjadi pilihan saya. Minuman yang lebih mirim syrup ini tidak ada y ang istimewa karena hanya terdiri dari jelly, syrup blackcurrent sama es serut yang dicampur jadi satu. Nothing special ...

Secara keseluruhan pelayanan cukup baik, ada open snack gratis [aslinya seeh cuma krupuk yang nggak ada asyik ayiknya, biasa saja ... ] nggak perlu nunggu terlalu lama untuk dapat meja, ya walaupun masih harus mengulang kembali pesanan saya karena nggak kunjung tiba dan harus pindah meja ... he he he

OK pemirsa sekian dulu perjalanan wisata kuliner kita hari ini, tetap sehat, tetap semangat, supaya bisa jalan-jalan lagi bersama wisata kuliner ... ;))

Setelah makan dengan cukup tergesa-gesa karena film akan diputar jam 21.30, maka setelah selesai bayar tagihan, langsung cabut melangkahkan kaki ke gedung seberang tempat DT akan memutar film yang tiketnya sudah saya pegang. He he he ... karena terlalu tergesa-gesa pesanan baso goreng yang belum sempat dimakan dan dibungkus sampe ketinggalan ... Sorry ya Lies ... anggap kasi tips baso goreng sama waiters-nya ...

Mari kita review film ini ... film karya Dedi Mizwar ini cukup untuk diacungi jempol dari segi pitcure dan sound cukup baik lah ... stereo ... tapi kayaknya sound effect perangnya kurang greget ... tapi over all GOOD lah ...

Dari segi cerita, cukup ringan secara thema film memang komedi, jadi cukup asyik untuk dijadikan tontonan ringan yang menghibur. Alur yang disajikan naik turun dan sulit untuk mencari klimaks yang sebenarnya karena tiap ada adegan yang serius selalu langsung dipatahkan oleh adegan komedi menjadikan film ini memiliki sesuatu yang unik.

Menceritakan si Bonaga (Tora Sudiro), anak si Nagabonar (Dedy Mizwar) yang telah menjadi seorang eksekutif muda di Jakarta dan mengundang bapaknya untuk berkunjung ke Jakarta sambil membicarakan rencana investasi di perkebunan kelapa sawit dimana ada kuburan ibu, nenek, sekaligus paman dari Bonaga di Kampung Halaman di Sumatra Utara. Inti ceritanya hanya itu, tapi dari inti cerita yang cukup singkat itu mampu membuat penonton terbius dan tertawa terbahak-bahak ...

Pokoknya film ini layak untuk di tonton ....

Berakhirlah malam minggu saya dengan sebotol Tekita sebagai pengantar tidur malam saya ... Hari minggu 24 jam telah siap menanti ...

2 comments:

Anonymous said...

mmm...wisata kuliner, mak nyossssssss....ikut..?ikut...?ikut.....Naga Bonar Fil refernsi yang bagus, coz gw seneng aktingnya dedi mizwar TOP bgt

mifta said...

TOP YU....!
Malem minggu yang menyenangkan.
Tapi Si Untari kaya gak menikamti bakso.
Si Andrik pas nonton nagabonar hanya tersenyum simpul.
Capek deh